Analisis Fundamental Perusahaan - Kantor Jasa Akuntansi (KJA) Sandi Bahari

Analisis Fundamental Perusahaan

Pendahuluan

Analisis fundamental adalah analisis sekuritas yang menggunakan data-data fundamental dan faktor-faktor eksternal yang berhubungan dengan perusahaan/ badan usaha tersebut. Data fundamental yang dimaksud adalah data keuangan, data pangsa pasar, siklus bisnis, dan sejenisnya. Sementara data faktor eksternal yang berhubungan dengan badan usaha adalah kebijakan pemerintah, tingkat suku bunga, inflasi, dan sejenisnya. Dengan mempertimbangkan data-data seperti tersebut diatas, analisis fundamental menghasilkan berupa analisis penilaian badan usaha dengan kesimpulan apakah perusahaan tersebut sahamnya layak dibeli atau tidak. Jika nilainya mahal atau overvalued, saham tersebut dianggap nilainya lebih tinggi berdasarkan analisis fundamental melalui perbandingan harga yang berlaku di pasar. Dengan kata lain harganya sudah terlalu mahal jadi lebih baik tidak dibeli atau dijual jika memiliki sahamnya. Sementara jika yang terjadi sebaliknya, saham itu layak untuk dibeli dengan alasan harganya murah.

Analisis ini memiliki horizon jangka panjang, karena selain menggunakan data historis (berupa laporan keuangan perusahaan) analisis ini juga menggunakan data masa depan berupa estimasi pertumbuhan perusahaan, estimasi perubahaan ekonomi di masa mendatang, dan berbagai jenis estimasi lainnya yang dianggap dapat mempengaruhi kinerja dan kelangsungan usaha. Meskipun menggunakan pendekatan kuantitatif dalam proses analisisnya, banyak variabel ditentukan berdasarkan judgment, misalnya tingkat pertumbuhan perusahaan di masa mendatang. Akibatnya, meskipun beberapa orang menggunakan metode analisis fundamental dengan cara yang sama, hasilnya bisa jadi berbeda. Analisis ini biasa digunakan untuk jangka panjang, tetapi permasalahannya yang seringkali dihadapi oleh investor adalah timing dan informasi. Karena tidak semua investor mendapatkan informasi yang lengkap sehingga jika hanya mengandalkan analisis fundamental, dapat terjadi kesalahan investasi akibat kurangnya informasi atau kesalahan timing sehingga bisa jadi saham yang dibeli harganya sudah mahal. Untuk mengatasi masalah timing tersebut dapat dilihat dari pergerakan bursa atau pergerakan saham tersebut melalui analisis teknikal untuk menentukan sinyal transaksi (sinyal beli/sinyal jual). Dengan menggunakan / menggabung kedua analisis tersebut secara tepat, bertujuan untuk menghasilkan capital gain yang optimum.

Analisis Ekonomi dan Analisis Industri

1. Analisis Ekonomi

Pendekatan sistematis untuk menentukan optimal penggunaan langka sumber daya, yang melibatkan perbandingan dari dua atau lebih alternatif dalam mencapai tertentu tujuan di bawah diberikan asumsi dan kendala . Ini membawa ke rekening dalam biaya peluang sumber daya yang digunakan dan upaya untuk mengukur dalam moneter hal yang pribadi dan sosial biaya dan manfaat dari suatu proyek kepada masyarakat atau ekonomi. Informasi paling penting yang diisikan dalam studi feasibilitas adalah analisis biaya-keuntungan-penilaian justifikasi ekonomi untuk sebuah proyek sistem berbasis komputer. Analisis biaya keuntungan menggambarkan biaya untuk mengembangkan proyek dan membandingkannya dengan keuntungan yang nyata (dapat diukur secara langsung dalam dolar) dan tidak nyata dari suatu sistem.

Analisis biaya-keuntungan dipersulit oleh adanya variasi kriteria dalam karakterisatik sistem yang akan dikembangkan,ukuran relatif proyek,dan pengembalian yang diharapkan pada investasi yang diinginkan sebagai bagian dari rencana strategis perusahaan.Banyak keuntungan yang diperoleh dari sistem berbasis komputer yang tidak nyata (misalnya,kualitas desain yang lebih baik melalui optimasi iteratif,bertambahnya kepuasan pelanggan melalui kontrol yang dapat diprogram, dan keputusan bisnis yang lebih baik melalui data penjualan yang diformat lagi dan telah dianalisis sebelumnya). Perbandingan kuantitatif langsung dapat sulit untuk dicapai.

Dalam analisis ekonomi terdapat tiga model analisis ekonomi yang sudah umum kita ketahui yaitu ekonomi deskiptif, teori ekonomi, dan ekonomi terapan. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Analisis Ekonomi Model 1 – Ekonomi Deskriptif

Yaitu suatu analisis ekonomi yang menggambarkan tentang kondisi yang sebenarnya terjadi dalam suatu perekoomian. Dengan cara inilah fakta-fakta yang terjadi dalam perekonomian yang sudah berjalan akan dianalisa. Memang terkadang hal ini masih cukup sulit untuk dilakukan karena terkadang sifat yang sebenarnya dari suatu keadaan dengan fakta yang terwujud dari situasi itu sendiri. Penyebab lainnya adalah dikarenakan terwujudnya situasi atau kondisi dalam perekonomian itu berhubungan dengan individu-individu dalam suatu masyarakat. Sebagai contoh apabila kita ingin menganalisa mengenai seberapa besar pengaruh kenaikan harga pangan. Hal ini cukup sulit diketahui karena produksi pangan juga dipengaruhi oleh banyak faktor, antar lain adalah faktor harga barang lain, faktor keadaan ekonomi, faktor iklim, dan faktor-faktor lainnya.

Analisis Ekonomi Model 2 – Teori Ekonomi

Yaitu suatu pandangan yang menggambarkan tentang hubungan prediksi dari kondisi ekonomi yang akan terjadi dengan sifat-sifat ekonomi yang telah terwujud dalam kegiatan ekonomi sebelumnya, serta pengaruh-pengaruh yang mempengaruhi perubahan tersebut. Sekaligus teori ekonomi ini juga memberikan informasi tentang sifat utama dari sistem ekonomi dan apa yang menjadikan berfungsinya ekonomi itu. Dengan mendapatkan data berupa fakta-fakta ekonomi saja itu belum cukup untuk mempelajari ilmu ekonomi. Tetapi ada hal yang lebih penting dari pada itu, yaitu membuat sususan secara sistematik dari fakta-fakta tersebut, sehingga gambaran umum tentang perekonomian yang sedang terjadi serta berbagai komponen pendukungnya dapat diketahui. Inilah tugas dari model analisis teori ekonomi.

Analisis Ekonomi Model 3 – Ekonomi Terapan

Model analisis ekonomi berupa ekonomi terapan ini jika di masyarakat biasanya disebut dengan ilmu kebijakan ekonomi. Yaitu suatu sistem analisis yang digunakan untuk mencari pemecah masalah dan cara penerapannya untuk mengatasi berbagai macam masalah ekonomi yang terjadi. Nah, hubungannya dengan sistem teori ekonomi adalah model ekonomi terapan ini dapat menggunakan hasil perumusan dari sistem teori ekonomi tersebut. Model analisis ekonomi terapan ini terkait dengan 4 tujuan pencapaian dalam perekonomian, yaitu :

  1. Menjaga kestabilan harga
  2. Mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang cepat
  3. Mejudkan pendataan distribusi yang merata
  4. Mengatasi besarnya angka pengangguran

Dalam model analisis ekonomi ini yang berperan penting dalam merumuskan suatu kebijakan ekonomi adalah hasil analisa tentang apa yang sebenarnya harus diwujudkan terlebih dahulu untuk mengangkat nilai perekonomian. Sebagai contoh ada masalah berupa kekurangan pangan, maka beberapa pendapat harus dihimpun untuk membuat kebijakan dalam mengatasi permasalahan itu. Mungkin ada pendapat yang menyatakan bahwa solusi paling baik adalah dengan menyediakan bahan pangan. Dan mungkin akan ada juga pendapat yang menjelaskan bahwa solusi yang lebih baik lagi adalah menaikkan jumlah produksi pangan. Jika dianalisa kembali, mungkin kedua pendapat itu ada benarnya.

Pendapat yang pertama menegaskan bahwa pentingnya mengutamakan konsumen. Dan pendapat kedua disimpulkan bahwa lebih mementingkan kepentingan negara secara menyeluruh. Inilah contoh tugas dari model ekonomi terapan untuk menentukan kebijakan paling tepat dalam mengatasi suatu masalah ekonomi yang terjadi.

2. Analisis Industri

Analisis industri biasanya dilakukan setelah melakukan analis ekonomi. Dalam analisis industri seorang investor mencoba untuk memperbandingkan kinerja dari berbagai industri, untuk dapat mengetahui jenis industri yang memberikan prospek paling bagus dalam masa yang telah ditentukan. Setelah dilakukan analisis industri akan didapatkan informasi mengenai kelompok industri yang akan dibentuk dan diyakini akan memberikan peluang yang paling menjanjikan. Pemahaman kita mengenai industri atau sekelompok industri seperti industri tekstil, industri bahan makanan, dan mungkin juga industri jasa seperti perbankan, industri jasa transportasi, industri jasa konsultansi dan lain sebagainya. Dari pemahaman berbagai macam jenis industri tersebut perlu diklasifikasikan dengan tepat dan sesuai. Pengelompokan industri di Indonesia dilakukan berdasarkan standar klasifikasi industri yang telah ditentukan. Di Indonesia standar yang banyak dipakai untuk mengelompokkan industri bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) adalah Jakarta Stock Exchange Sectoral Industry Classification (JASICA).

 

Peranan Analisis Industri 

Sebagai alat yang dapat mengidentifikasi peluang-peluang investasi dalam industri maka akan membantu investor dalam menginvestasikan uangnya untuk menghasilkan keuntungan di kemudian hari. Hal ini dikarenakan dalam analisis industri akan memberikan informasi mengenai karakteristik-karakteristik resiko dan return mengenai berbagai macam industri.

Pada era ini masing-masing industri bersaing dan berkompetisi secara ketat dalam pencarian keuntungan yang ingin dimiliki. Masing-masing industri harus siap untuk mengembangkan keuntungan kompetitif yang dimiliki. Dalam persaingan tersebut terdapat hal-hal yang saling berhubungan yaitu:

  1. Struktur industri yang kompetitif seperti apa yang bisa diperoleh
  2. Bagaimana unit usaha memanfaatkan struktur industri kompetitif
  3. Apa yang menjadi dasar keuntungan kompetitif unit usaha tersebut.

Menurut Poter, terdapat lima kumpulan kekuatan bersaing sebagai berikut:

  1. Intensitas persaingan diantara pesaing yang ada. Faktor yang mempengaruhinya adalah:
  • Pertumbuhan industri
  • Perbedaan produk
  • Jumlah pesaing dan perbedaan pesaing
  • Tingkat biaya tetap
  • Kapasitas yang berlebih
  • Hambatan dari luar
  1. Kekuatan pembeli dalam menawar, faktor yang mempengaruhi adalah:
  • Jumlah pembeli
  • Biaya “switching” pembeli
  • Kemampuan pembeli untuk mengintegrasikan ke belakang
  • Pengaruh produk unit usaha atas total biaya yang dikeluarkan pembeli
  • Pengaruh produk unit usaha atas kualitas produk yang dipilih pembeli
  • Signifikansi volume unit usaha terhadap pembeli
  1. Kekuatan Pemasok dalam menawar, faktor yang mempengaruhi adalah:
  • Jumlah pemasok
  • Kemampuan pemasok untuk mengintegrasikan ke depan
  • Adanya input substitusi
  • Pentingnya volume unit usaha pemasok
  1. Ancaman dari produk pengganti, faktor yang mempengaruhi adalah:
  • Hari relatif dari pengganti
  • Biaya “switching” pembeli
  • Keinginan pembeli untuk mensubstitusi
  1. Ancaman dari pesaing baru, faktor yang mempengaruhi adalah:
  • Kebutuhan modal
  • Akses ke jaringan distribusi
  • Skala ekonomi
  • Diferensiasi produk
  • Kompleksitas teknologi dari produk ataupun proses produk sendiri
  • Tindakan balasan dari usaha yang ada
  • Kebijakan pemerintah.

Dari lima kumpulan kekuatan bersaing tersebut terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan lima analisis industri, yaitu:

  • Semakin besar kekuatan lima faktor di atas, tingkat keuntungan yang diperoleh semakin rendah
  • Ketergantungan terhadap lima faktor di atas masing-masing unit usaha berbeda
  • Pemahaman terhadap sifat kekuatan di atas akan membantu dalam merumuskan strategi

Beberapa penelitian yang terkait dengan analisis industri didokumentasikan oleh Reilly dan Brown (1997) dengan kesimpulan:

  1. Studi mengenai kinerja tahunan industri, menunjukkan industri yang berbeda mempunyai tingkat return yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan analisis industri penting dan perlu dilakukan untuk mengetahui perbedaan kinerja antar industri untuk membantu investor mengidentifikasi peluang-peluang yang menguntungkan atau tidak menguntungkan.
  2. Tingkat return masing-masing industri berbeda setiap periodenya. Dari informasi tersebut dapat disimpulkan bahwa return industri untuk periode yang akan datang tidak dapat diestimasi hanya dengan menggunakan data return tahun lalu, tetapi harus ditambah dengan data-data lain yang relevan untuk mengestimasi return industri periode mendatang.
  3. Tingkat return perusahaan sejenis cukup beragam. Hal ini menunjukkan analisis industri perlu diikuti dengan analisis perusahaan.
  4. Tingkat resiko berbagai industri juga beragam sehingga analisis dan investor perlu mempelajari dan mengestimasi faktor-faktor resiko yang relevan untuk suatu industri tertentu seperti hal yang sama dilakukan untuk estimasi return.
  5. Tingkat resiko suatu industri relatif stabil sepanjang waktu sehingga analisis resiko berdasarkan data historis dapat digunakan untuk mengestimasi resiko industri di masa yang akan datang.

Informasi umum yang dapat diambil dari hasil penelitian di atas adalah pentingnya analisis industri untuk meminimalkan resiko atau menidentifikasi industri yang mempunyai prospek menguntungkan.

Estimasi Tingkat Keuntungan Industri

Analisis Industri sebagai bagian dari analisis fundamental dalam perusahaan harus  mempunyai informasi mengenai return yang diharapkan dari suatu industri yang akan dianalisis. Hal ini bertujuan untuk menentukan berapa return yang diharapkan dan juga mempunyai informasi mengenai perusahaan yang mempunyai prospek terbaik tempat untuk berinvestasi.

Informasi umum yang ingin diketahui oleh seorang investor adalah:

  • Earning per Share (EPS)

EPS = keuntungan bersih/jumlah saham beredar

Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan dari perusahaan. Biasanya nilai ini akan dibandingkan dengan nilai pada kuartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Dari perhitungan tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan atau penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham.

  • Price Earning Rasio (P/E)

      P/E = Harga saham/EPS

Dengan rasio ini kita dapat membandingkan suatu perusahaan dengan P/E ratio rata-rata dari perusahaan dalam kelompok perusahaan sejenis.

Jika hasil kedua ratio tersebut dikalikan maka akan muncul nilai akhir yang diharapkan dari suatu industri (expected ending value of industry). Untuk menentukan tingkat return yang diharapkan suatu industri kita membagi nilai akhir yang diharapkan dari suatu industri ditambah deviden yang diharapkan dari industri, dengan nilai awal industri tersebut pada periode sebelumnya. Dari informasi tersebut ditentukan industri yang layak untuk dijadikan pilihan untuk berinvestasi. Seorang investor pasti akan memilih industri yang mampu memberikan return yang paling besar untuk menginvestasikan modalnya.

Estimasi Earning Per Share Industri

Dapat dilakukan dengan tiga teknik pendekatan yaitu:

  1. Prakiraan Penjualan dan Daur Hidup Industri

Dalam tahapan ini dapat diestimasi besarnya penjualan suatu industri yang diawali tahap:

  • Tahap permulaan, sebagai awal perkembangan industri pertumbuhan penjualan sangat kecil, dengan tingkat biaya yang sangat besar untuk promosi dan biaya pengembangan produk yang diyakini mempunyai prospek baik untuk masa depan.
  • Tahap pertumbuhan, setelah dikenalnya produk oleh masyarakat maka pertumbuhan penjualan akan cepat dengan banyaknya permintaan pada industri yang bersangkutan. Keuntungan perusahaan akan tinggi. Hal ini diprediksi karena persaingan untuk produk tersebut belum ketat. Pertumbuhan ekonomi pada tahap ini cenderung lebih besar.
  • Tahap kedewasaan, mulai munculnya persaingan maka penjualan akan menurun. Dampaknya keuntungan perusahaan akan menuju pada tingkat keuntungan yang normal. Pertumbuhan industri ekonomi sedikit lebih besar dari pertumbuhan ekonomi secara umum.
  • Tahap stabil, merupakan tahap yang paling panjang dalam daur hidup industri. Pertumbuhan industri cenderung sama dengan pertumbuhan ekonomi secara umum di mana industri tersebut berada. Meskipun penjualan terkait dengan kondisi ekonomi, tetapi besarnya pertumbuhan penjualan masing-masing perusahaan secara individual dalam suatu industri akan berbeda-beda satu dengan yang lain, tergantung kemampuan manajerial dari masing-masing perusahaan.
  • Tahap penurunan, tingkat penjualan dan keuntungan industri semakin menurun. Pada tahap ini biasanya investor mulai mencari alternatif industri lain yang lebih menguntungkan. Pertumbuhan industri pada tahap ini akan jauh di bawah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
  1. Prakiraan Penjualan dan Analisis Input-Output

Merupakan cara alternatif untuk mengetahui gambaran prospek penjualan suatu industri di masa yang akan datang dengan mengidentifikasi pemasok (supplier) dan konsumen (demand) dari suatu industri. Dengan analisis ini kita dapat mengestimasi permintaan konsumen di masa datang, serta kemampuan pemasok untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan dalam suati industri, yang nantinya akan digunakan untuk memprediksi tingkat penjualan dan keuntungan suatu industri di masa depan.

  1. Prakiraan Penjualan dan Hubungan Industri dengan Ekonomi

Teknik dilakukan dengan cara membandingkan tingkat penjualan industri dengan kondisi perekonomian secara keseluruhan yang berhubungan dengan barang dan jasa yang diproduksi oleh industri tersebut. Dengan asumsi bahwa kondisi perekonomian di mana industri tersebut beroperasi akan terkait dengan penjualan dan keuntungan suatu industri.

 I.2. Analisis Rasio Keuangan

Menurut Mahmud M.Hanadie Analisis rasio adalah penggabungan yang menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya dalam laporan keuangan, hubungan antara unsur laporan tersebut dinyatakan dalam bentuk matematis yang sederhana.

            Analisis ratio merupakan bentuk atau cara umum yang digunakan dalam analisis laporan keuangan dengan kata lain diantara alat-alat analisis yang selalu digunakan untuk mengukur kekuatan atau kelemahan suatu perusahaan di bidang keuangan adalah analisis ratio keuangan (Financial Ratio Analysis)

           Dalam Keown dkk tujuan dari analisis ratio adalah untuk membantu manager finansial memahami apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan, berdasarkan informasi yang tersedia dan sifatnya terbatas.

Analisis ratio pada dasarnya tidak hanya berguna bagi kepentingan intern perusahaan saja melainkan juga pihak luar dan ini berbeda menurut kepentingan khusus dari analisis atau pihak yang berkepentingan.

         Analisis ratio berguna bagi para analisis intern untuk membantu manajemen membuat evaluasi mengenai hasil-hasil operasinya, memperbaiki kesalahan-kesalahan dan menghindari keadaan yang dapat menyebabkan kesultan keuangan.

  1. Rasio Likuiditas

Adalah menunjukkan kemampuan suatu  perusahaan  untuk  memenuhi kewajiban  keuangannya  yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi  kewajiban  keuangan pada saat ditagih (S. Munawir, 1995 hal 31).

Rasio  likuiditas  terdiri dari :

  1. aCurrent Ratio

Current Ratio adalah perbandingan  antara  aktiva lancar  dan utang  lancar (Miswanto dan Eko Widodo, 1998, hal 83).

Rumus  :

Current Ratio  =  Aktiva Lancar / Hutang Lancar

Current  ratio  menunjukkan  kemampuan  perusahaan  untuk  membayar  utangnya  yang harus  segera  dipenuhi dengan mengunakan aktiva lancar yang dimilikinya.

  1. Cash Ratio  (Ratio Immediate Solvency)

Aktiva perusahaan  yang paling  likuid  adalah  kas  dan  surat   berharga. Cash  ratio  menunjukkan  kemampuan  perusahaan  untuk membayar  utang  jangka  pendek  dengan  kas  dan surat  berharga  yang dapat   segera  diuangkan. Tidak terdapat  standar  likuiditas  untuk  cash  ratio sehingga  penilaiannya  tergantung  pada  kebijakan   manajemen.

Rumus  :

Cash Ratio = Kas + Surat Berharga / Hutang Lancar

  1. Quick Ratio (Acid Test Ratio)

Quick ratio  merupakan rasio  antara   aktiva  lancar  sesudah dikurangi  persediaan  dengan  hutang lancar. Rasio ini  menunjukkan  besarnya  alat  likuid   yang paling cepat   bisa  digunakan  untuk melunasi     hutang lancar.  Persediaan  dianggap aktiva   lancar  yang paling   tidak lancar, sebab  untuk menjadi    uang tunai  (kas)  memerlukan  dua  langkah  yakni   menjadi piutang  terlebih dulu  sebelum menjadi kas.

Rumus :

Quick Ratio  =  Aktiva Lancar – Persediaan / Hutang Lancar

2 .   Ratio Solvabilitas

Solvabilitas suatu  perusahaan  menunjukkan  kemampuan  perusahaan  untuk  memenuhi  segala kewajiban finansialnya  apabila  sekiranya   perusahaan  tersebut  pada saat itu  dilikuidasikan (Bambang Riyanto, 1995, hal 32).

Suatu  perusahaan yang  solvabel  belum  tentu  likuid  dan  sebaliknya  sebuah  perusahaan  yang  insolvabel  belum  tentu  ilikuid. Dalam  hubungan antara  likuiditas  dan solvabilitas  ada empat   kemungkinan  yang dapat   dialami  oleh perusahaan yaitu :

  1.     Perusahaan yang likuid  tetapi insolvabel
  2.     Perusahaan  yang likuid  dan solvabel
  3.     Perusahaan yang solvabel  tetapi ilikuid
  4.    Perusahaan  yang insolvabel  dan ilikuid

Tingkat solvabilitas diukur dengan beberapa   rasio,  yaitu :

  1.    Total Assets  to Total  Debt Ratio

Total  Assets  to total  Debt Ratio  adalah  ratio  yang dihasilkan   dengan membandingkan  jumlah aktiva  (total assets)  di satu   pihak  dengan   jumlah utang (total debt  dilain pihak).

Rumus :

Total Debt Ratio   = Total Hutang / Total Aktiva

  1. Total Debt To Equity ratio

Rasio ini   membandingkan  modal sendiri  (Net  worth)  di satu pihak   dengan total    hutang  (Total  Debt) di lain pihak.

Rumus  :

Total Debt To Equity Ratio = Total Hutang / Modal Sendiri

Makin kecil  prosentase ratio  ini berarti  makin    cepat perusahaan menjadi insolvabel. Tingkat   solvabilitas  dapat  dipertinggi  hanya dengan  jalan penambahan  modal sendiri dengan alternatif  sebagai berikut :

  • Menambah  aktiva tanpa  menambah  utang atau   menambah  aktiva relatif  lebih besar  daripada  bertambahannya  hutang.
  • Mengurangi  hutang  tanpa   mengurangi  aktiva  atau mengurangi  hutang  relatif  besar  daripada  berkurangnya  aktiva.
  1. Rasio  Rentabilitas

Rentabilitas  suatu  perusahaan  menunjukkan   perbandingan antara  laba  dengan aktiva   atau modal  yang menghasilkan  laba tersebut. Dengan kata  lain rentabilitas  adalah  kemampuan  suatu perusahaan  untuk menghasilkan laba  selama  periode  tertentu (Bambang Riyanto, 1997, hal 35).

Adapun  cara penilaian  Rentabilitas  adalah :

  1. Rasio  Rentabilitas  Ekonomi (Earning Power)

Rentabilitas  ekonomi  ialah perbandingan antara  laba usaha  dengan modal  sendiri  dan modal asing  yang dipergunakan  untuk  menghasilkan  laba tersebut  dan dinyatakan  dalam  persentase (Bambang Riyanto, 1997, hal  36).

Modal   yang diperhitungkan   untuk menghitung  rentabilitas  ekonomi   hanyalah modal   yang  bekerja  didalam perusahaan  (Operating Capital / Assets). Demikian pula laba  yang diperhitungkan  untuk menghitung   rentabilitas  ekonomi  hanyalah  laba yang berasal  dari operasi   perusahaan,  yaitu  yang disebut   laba usaha  (Net  Operating  Income).

Rumus :

Rentabilitas Ekonomi  = EAT / Total Aktiva                                                   

 Tinggi  rendahnya  rentabilitas  ekonomi  ditentukan  oleh dua faktor   yaitu :

–  Profit   Margin,  yaitu  perbandingan  antara  “Net  Operating Income”, dengan “Net Sales”, perbandingan   mana dinyatakan   dalam persentase.

Turnover  of Operating  Assets  (Tingkat  perputaran aktiva  usaha), yaitu kecepatan berputarnya  operating  asets  dalam  suatu  periode tertentu.

  1.     Rentabilitas modal sendiri

Rentabilitas  modal sendiri atau sering  juga  dinamakan rentabilitas  usaha adalah  perbandingan  antara  jumlah  laba yang  tersedia  bagi  pemilik   modal sendiri  disatu   pihak  dengan jumlah   modal sendiri  yang menghasilkan   laba tersebut  dilain  pihak (Bambang Riyanto, 1997, hal 44).

Rumus  :

Rentabilitas Modal Sendiri =   EAT / Modal Sendiri   

Daftar Pustaka:

  • Jonathan Sarwono. 2005, Riset Pemasaran, Yogyakarta: Penerbit CV.Andi Offset.
  • Lukman Syamsudin. 2007, Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Nazir. 2005, Metode Penelitian, Cetakan Keempat, Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.
  • Mudrajad Kuncoro. 2001, Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi Untuk Bisnis dan Ekonomi, Edisi Pertama, Penerbit UPP AMP YPKN, Yogyakarta.
  • Munawir. 2004, Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.
Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Kembali ke Atas
EnglishBahasa Indonesia